Postingan

CHAOTIC

Gambar
Di pelataran sepi, waktu seperti seutas benang panjang yang tak henti kupintal darinya kelak kujahit nama-nama Ada namamu, tentu saja, yang kuharap terjahit paling rapi diantaranya Di pelataran sepi, pagi terajut sendiri siang dan malam terjalin sendiri Di celah-celah anyaman hari coba kuintip namamu yang belum juga usai Tak kunjung usai, sampai aku tak sabar dan kutinggalkan mesin jahitku Saat aku kembali, di pelataran sepi waktu seperti benang panjang kusut yang sulit kuurai lagi Kulihat jahitan namamu terbengkalai Dan harus kumulai lagi semuanya dari awal Di pelataran sepi, aku pucat dan masai memandangi waktu yang seperti benang acak-acakan aku tak bisa mengguntingnya Bagaimana harus kujahit namamu kembali? Kubiarkan waktu mengacak-acak diriku *Bandung, 22 Maret 2010

My Father's Notebook

Gambar
My Father's Notebook: A Novel of Iran by Kader Abdolah My rating: 4 of 5 stars Ingatlah ketika pemuda-pemuda Kahfi itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya, Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu.” …. Petikan beberapa ayat Surat Al-Kahfi membuka (juga menjadi penutup) “My Father’s Notebook”, sebuah novel Iran karya Kader Abdollah yang bercerita tentang seorang ayah bisu-tuli dan anak lelakinya. Sebuah kisah yang dituturkan dengan indah, bersetting tempat dan budaya Persia yang menawan, dan bergulir dengan jalinan latar dinamika sejarah modern Iran abad ke-20. Dikisahkan dengan gaya bertutur yang tenang, perlahan tapi pasti kisah kehidupan Aga Akbar yang bisu-tuli sejak lahir bergulir. Semasa hidupnya Aga Akbar menulis apa saja yang tak dapat diungkapkannya dalam sebuah buku catatan. Ia menulisnya dalam huruf paku kuno. Dikemudian hari, buku catatan ini sampai ke tangan Ismail, putera Aga Akbar, dalam bentuk paket misterius yang diterimanya saat di pen...

Kata Cinta

Gambar
Ibu. Cintaku padamu serupa puisi yang lahir prematur di ujung pena yang gemetar mencoba mereka lafaz cinta yang belum purna. tak pernah purna.

Tentang Aku, Pohon Rindang, & Ilalang

Gambar
"Aku, Pohon Rindang, & Ilalang" Rasa jenuh terkadang menerpa Hadapi hari seperti biasa Dunia yang semakin tak bersahabat Ingin kutinggalkan walau sesaat Jauh, trus jauh sendiri kupergi Dari keramaian Sementara lepaskan semua beban tuk merasakan kebebasan Di sepohon rindang, di padang ilalang Sepoi angin meneduhkan keresahan Di hamparan bumi, langit memayungi Bersimpuh kusyukuri segala indah ini... Hijaumu bangkitkan semangat di hati Jalani hari-hari... - Lagu "Aku, Pohon Rindang, & Ilalang", Faliq feat. Haris Isa - Setiap orang pasti pernah merasakan jenuh dalam hidupnya. Itu tentu saja sebuah hal yang manusiawi. Jenuh oleh rutinitas, misalnya, atau mungkin jenuh oleh hiruk-pikuk duniawi di lingkungan sekitar yang makin hingar-bingar diterpa dinamika zaman yang makin edan. Lagu "Aku, Pohon Rindang, & Ilalang" adalah sebuah lagu yang bercerita tentang rasa jenuh itu. Siapapun yang tengah dilanda jenuh dan mendengarkan lagu ini, saya kira dia te...

Hujan & Suasana

Gambar
Ah, entahlah. Hujan senantiasa menciptakan suasana magis buatku. Pada rinainya yang berirama, pada dinginnya yang menggigilkan, pada aroma basahnya yang khas, bahkan pada kilat dan gemuruh gunturnya yang mencekam. Aku tak bisa benar-benar tak menyukai hujan. Tingkah hujan memang mungkin kadang menyebalkan, jika berpikir ia datang di saat yang tak tepat atau tak diinginkan. Tapi tetap saja, tak bisa tidak menyukainya. Layaknya seniman misterius bertingkah menyebalkan, atau teka-teki misteri yang menjengkelkan, justru hujan itu menarik hati untuk diselami. Menarik bahwa suasana hujan senantiasa menciptakan ruang perenungan yang lengang, dalam, dan seringkali mengusik kesadaran spiritual yang terlupakan. Karenanya aku senang menamai hujan sebagai "Teka-teki Tuhan" atau semacamnya, meski kuakui ia hanyalah salah satu dari sekian banyak pesan yang dikirimkan Tuhan secara misterius itu. Hujan. Aku suka gayanya. Dalam suasana yang dibentuknya, yang mungkin "menyebalkan...

Tentang Ibu

Gambar
(I) Malam ini aku berpikir tentang puisi. Lalu kau menjelma dalam imaji. Bunda. Rinduku tak cukup kuungkap dalam kata-kata Lebih dari puisi itu sendiri, Ibu. Kaulah rindu. (II) Ibu. Kini rindu tak lagi berupa Hari-hari tanpamu adalah keabstrakan rasa. Air mata tak lagi berarti suatu apa Hanya mozaikmu yang terhanyut arus waktu Kunamakan ini rindu. Rindu tak berupa. yang tak dapat kueja lewat kata-kata Ibu, tentangmu Kata-kata tercerabut sudah dariku puisi menghilang dari sentuhku Selalu Ibu, aku rindu. Hanya itu. -Mom's day moment- 21 Des 2009